wahai merica pecah
berbisiklah di telinga lanang kemangi
senandungkanlah mijil pada kedalaman
sukma asmarandana ditengah laut....

isyaratkan kata hanya dengan isyarat
bisumu bisuku adalah nostalgia masa depan
yang berdengung jauh sebelum kita terapung di gua garbha
dimasa taruna yang semakin muda...

harapan sarujuk hari kehari
bertahta pada kelopak puisi
berikanlah kami penawar burung gagak
dan bersegeralah lantunkan gambuh

izinkanlah kami mengecap gula gula
ajarkanlah tentang liukan gemulainya drema
mungkurkanlah nafsu....nyepuh melawan musuh
inikah picisan?
Aku sedang bernostalgia
berusaha menemukan puing-puing kebaikan
berharap dihadirkan kembali di masa depan

Aku masih bernostalgia
mengambil sosok2 diwaktu yang berbeda
berharap dimunculkan dalam waktu yang sama

Aku ingin begini
Kamu ingin Begitu
Dia?
Mereka?
jangan terlalu lama disini
kemasi yang baik, mari kita pergi

uhhhh!! Aku adalah Negeri dalam nostalgia
selaksa kebesaran narasi dimasa teruna
simbolis jejak amsal sebuah pengharapan

hmmm!! Aku adalah negeri yang masih dalam nostalgia
psike labil yang berhiatus dalam keberadaan
seorang lelaki yang perempuan uhh!! dilema

Aku ingin kesini
Kamu ingin kesitu
Dia???!!!
Mereka???!!!
Jika kita adalah sebuah negeri
kemasi yang baik, mari kita pergi

Hubungan Aku dan Kamu dan Dia dan Mereka
adalah jalinan rasa tanpa istilah atau kata
bukan teman? bukan kekasih? bukan keluarga?
mungkin bumi belum sempat atau terlupa
untuk memberikan istilah tentang hubungan kita
teramat jauh yang mungkin teramat dekat
yang teramat dalam yang mungkin teramat dangkal
sempit? luas?
jalinan aku dan kamu dan dia dan mereka terlalu arif untuk dimaknai
stop!!! jangan berbicara lagi
kemasi yang baik, mari kita pergi
Aku pernah dilingkungan ini
bertamu dan menerima tamuku mu dan mereka
senyumku senyummu senyum - senyum mereka
tangisku tangismu....berbaur dengan kisah sedih mereka

Aku telah sampai pada tikungan ini
sebuah pilihan haruslah tetap ditentukan
aku tak mengenal masa depan
yang aku tahu adalah masa lalu dan hidupku detik ini

bagaimana kabarmu?
jarak yang begitu dekat tidak selalu menemukan kita
tetap terpisah meski hanya dibatasi dinding ari
rebellious? tak perlu
kita laksana burung bersangkar besar saking besarnya kita tidak tahu kalau kita terpenjara

Lihatlah aku begitu sempurna
belum sempurna tidak berarti tidak sempurna lho!!
karena kesempurnaanku sangat dekat dengan kematianku
suatu waktu aku pasti sempurna...aku masih terlalu mencintai hidup
mungkin saat keluhan dan semangatku telah sampai di pendengaranmu

Duhai pemilik jantung yang tetap bergerak ini
Rhapsody kami seiring denyut nadi
izinkanlah kami menerima perang dan menikmati damai
sempurnakanlah hajatMu yang selalu akan hakiki
izinkanlah kami menerima sangkar ini dan menikmati damai
wujud sempurna manifestasi kami.......terhadap kebesaranMu
ribuan peluru menghujam dada
dan pertahananmu itu kau sengaja
telanjang dadamu aku tahu pasti
saat-saat terlentangnya tubuh gemuk diatas aspal
senyum tuamu berkata lirih didepan pendengaranku
"Duhai lelaki kecilku, ikhlas adalah simphoni rasa aman yang paling aman"
hari ini aku terbawa nostalgia tentang seorang lelaki yang memberi andil menjadikanku seorang lelaki,engkau adalah guru yang paling guru
Aswani....aswani hangat.....menjadikan aku kembali kuat
tanpa sadar aku sebentar melupakan kopi
terjagaku malam terlelapku siang
kulihat sejenis kupu mengitari lampu
mungkin bingung dalam bilik atresia
berdua dengan sebatang tubuh yang tak dikehendakinya
apa peduliku...?

yang terpenting engkau jadi saksi aku hidup detik ini
detik yang begitu panjang hingga mungkin aku kembali
itu saja!! setidaknya engkau tahu dalam 5:15 aku berdiri
duhai penjaga lampu, pastikan angka tersebut tak pernah berganti

Ada sesuatu yang patut aku pamerkan didepan mereka
seiring dengan itu ada juga yang ingin aku cicipi dari apa yang mereka punya

Aku ingin menghinakanmu sehina dari yang "paling" dan "ter"
namun dibalik itu tidak bisa dipungkiri engkau lebih baik dari yang pernah ada

aku akan hadir bersama selaksa sepi yang teramat.....dia pasti terpesona!!
lagi lagi dia datang dengan simfoni keramaian yang tak pernah aku duga

dibalik pertahananKu dan Mu ...kita saling membutuhkan untuk diketahui
bahwa simbiosis tetap berjalan meski kita berjauhan.....dalam jarak yang begitu dekat

Segala Sesuatu telah membantu dalam pembentukanku
"Maaf" dan "Terima Kasih" hanyalah bersifat pinjaman
sebagai bekal ketika kita bertemu lagi di masa depan
mungkin aku hanya debu
tetapi bukanlah sesuatu yang statis
bisa saja aku sekeras batu-batu
bisa saja aku menjadi gula-gula

aku bersinar...meski redup
itu tergantung prasangkamu
meski begitu kecil aku adalah manifestasi keberadaan sesuatu yang teramat besar
yang mencintaiku memelukku menangisiku tersenyum untukku

aku adalah karya kecil yang begitu kaya
sesuatu yang begitu harmoni
lengkap dengan senyum dalam kandungan elegi
yang begitu menggelitik aspersi mu

aku bentuk pengejawantahan akbar
yang tidak bisa dibaca sisi sempit mu
sekuntum selasih yg belum terpuaskan
yang terkadang berharap menjadi melati demi penghargaan samar

metamorfosis dalam perjalanan menjadi jenawi
pemberontakan sukma yang kosong agar terisi
muhasabah kedangkalan dalam kedalaman
penuh dengan ratapan kejemawaan